RSS

Jangan Takut untuk Memilih Kawan

02 Nov

Umur Laisa saat itu sebelas tahun. Kelas empat Umur Dalimunte tujuh tahun. Sudah setahun Dalimunte tertunda sekolah karena Mamak tidak punya uang. Mamak ingat sekali. Hari itu. Pagi itu. Laisa mendekatinya dari belakang. Pukul empat shubuh. Saat Mamak sibuk memasak gula enau. Saat yang lain masih tertidur lelap.
“Biar. Biar Lais yang berhenti sekolah, Mak…”
Putri sulungnya tersenyum tulus, menatap dengan mata bercahaya.
“Kau harus terus sekolah, Lais!”
Mamak menatap tajam Laisa.
Menggeleng, “Lais tahu Mamak tidak punya cukup uang untuk membeli seragam baru Dali. Biar Lais yang berhenti sekolah. Lagipula Lais anak perempuan. Buat apa Lais sekolah tinggi-tinggi. Biarlah Dalimunte yang sekolah. Lais membantu Mamak mencari uang saja. Dengan begitu nanti Ikanuri dan Wibisana juga bisa sekolah…. Juga Yashinta….”
Putri sulungnya menyentuh lengannya. Menatap dengan yakin dan mengerti benar apa yang telah dikatakannya. Mulai shubuh itu, Mamak tahu persis satu hal. Laisa yang bersumpah membuat adikadiknya sekolah menjadikan sumpah itu seperti prasasti di hatinya. Tidak. Laisa tidak pernah menyesali keputusannya. Tidak mengeluh. Ia melakukannya dengan tulus. Sepanjang hari terpanggang terik matahari di ladang. Bangun jam empat membantu memasak gula aren. Menganyam rotan hingga larut malam. Tidak henti, sepanjang tahun. Mengajari adikadiknya tentang disiplin. Mandiri. Kerja keras. Sejak kematian Babak diterkam harimau,
Mamak sungguh tidak akan kuasa membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan putri sulungnya, Laisa. Semua kesulitan hidup masa kecil itu. Laisa membantunya melaluinya dengan wajah bergeming. Wajah yang tidak banyak mengeluh.
Wajah yang sekarang terlihat amat lelah….
Terbaring lemah karena kanker paru-paru stadium IV. Penyakit yang disimpannya sendiri sejak sepuluh tahun silam. Karena ia tidak ingin merepotkan adik-adiknya. Bagi Laisa, yang berhak merepotkan itu adik-adiknya, bukan dia. Setiap kali kunjungan dua bulanan, Laisa tetap riang menyambut anak-anak. Tertawa mengajak mereka melakukan banyak hal. Itu pula yang membuatnya bisa bertahan selama ini. Sepuluh tahun kanker itu seolah tak kuasa menggerogoti fisiknya. Sayangnya, satu bulan yang lalu, seluruh energi dari penerimaan jiwa atas pilihan hidup yang hebat itu berakhir sudah. Kalah. Fisiknya tidak kuasa lagi, kanker itu sudah menjalar ke mana-mana. Meski semangat hidupnya masih tinggi, meski dengan semua spirit itu, tubuhnya tidak kuasa lagi bertahan. Maka didatangkanlah dokter dari kota provinsi (yang juga sepuluh tahun terakhir diam-diam merawatnya, hanya Mamak yang tahu). Juga peralatan medis, juga perawat-perawat Kak Laisa satu bulan terakhir bertahan tidak memberitahu adik-adiknya hingga tadi pagi. Satu bulan terbaring tidak berdaya. Setelah Mamak membujuknya. Akhirnya pesan 203 karakter itu terkirimkan. Ketika ia merasa waktunya sudah tiba.

Apa kau Ingat kisah ini,teman?….ah ya, ini adalah cuplikan cerita dalam novel “Bidadari-bidadari Surga” karya Tere-Liye…Tentu kau tahu kan, apa yang ingin dia sampaikan..

“Itu kukang, Yash!” Tertawa melihatnya ketakutan saat seekor kukang melompat.
“Kau tahu? Saat ada ular pemangsa yang mengancam sarangnya, saat ada hewan buas lain yang mengincar anak-anaknya, induk kukang akan habis-habisan mempertahankan sarang. Sampai mati. Dan ketika ia mati, sekarat, induk kukang akan mengambil cairan di ketiak kiri dan kanannya, menjadikannya satu, mengusapkannya ke seluruh tubuh. Jika dua cairan ketiak kukang digabungkan, itu menjadi racun mematikan. Yang akan membunuh ular atau pemangsa lain saat memakan tubuhnya…. Kau tahu apa gunanya pengorbanan itu? Agar anak-anaknya tetap selamat. Induk kukang mati bersama dengan pemangsanya!”
***

Atau kau ingat tidak dengan kisah ini?
Saat itu tengah malam di kota Madinah. Kebanyakan warga kota sudah tidur. Umar bin Khatab r.a. berjalan menyelusuri jalan-jalan di kota. Dia coba untuk tidak melewatkan satupun dari pengamatannya. Menjelang dini hari, pria ini lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Tanpa sengaja, terdengarlah olehnya percakapan antara ibu dan anak perempuannya dari dalam rumah dekat dia beristirahat.

“Nak, campurkanlah susu yang engkau perah tadi dengan air,” kata sang ibu.
“Jangan ibu. Amirul mukminin sudah membuat peraturan untuk tidak menjual susu yang dicampur air,” jawab sang anak.

“Tapi banyak orang melakukannya Nak, campurlah sedikit saja. Tho insyaallah Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,” kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya.
“Ibu, Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya. Tapi, Rab dari Amirul Mukminin pasti melihatnya,” tegas si anak menolak.

Tapi kalau boleh jujur, aku amat suka dengan yang ini….

“Paman, bagaimana kalau aku mengajak mereka pada suatu kebaikan?”
“Apa maksudmu?
“Aku ajak mereka untuk mengucapkan satu kalimat, yang dengannya mereka akan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Mereka juga akan dipatuhi oleh bangsa Arab bahkan mereka dapat menguasai dunia…” kata Rasul dengan tenang.
“Kalimat apakah itu?” Penasaran Abu Thalib dengan penjelasan keponakannya itu.
“Dengarkanlah paman. Kalimat itu adalah Laa Ilaaha Illallaah”

“Muhammad….Bukan itu yang menjadi persoalan” Putus asa rasanya Abu Thalib dalam menghadapi Muhammad yang tak pernah sekalipun terpancing amarah atau sedikit saja kekesalan dalam hatinya.
“Ini menyangkut keselamatan diriku dan juga keselamatan dirimu. Wahai Muhammad, janganlah engkau membebani diriku dengan persoalan-persoalan yang tak akan sanggup aku hadapi. Karena itu, aku mohon kepadamu, pertimbangkanlah sekali lagi seruan orang-orang Quraisy itu..” kata Abu Thalib.
Wajah tuanya terlihat jadi semakin berkerut dan semakin muram. Ia sungguh berasal dari generasi pendahulu yang sudah lamban dan tertatih tatih. Hidupnya sudah teramat panjang. Dan ia segan bila masih harus berjibaku dengan masalah-masalah kehidupan lagi. Ia ingin hidup tenang. Ia ingin bisa duduk-duduk dibangku terasnya besama istri. Sambil menikmati sepiring kurma dan segelas susu unta. Buatnya, itulah impian terindah yang bisa ia bayangkan.
Jawaban Abu Thalib sungguh menyedihkan Rasul Allah. Karena ia menyangka pamannya telah berubah sikap tak mau lagi melindunginya. Abu Thlaib hendak menyerahkan dirinya kepada kaum musyrikin Quraisy. Wajahnya ikut muram seperti wajah Abu Thalib. Kali ini suaranya terdengar bergetar dan seperti menahan gejolak kalbu.
“Paman, sekiranya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku. Dan meletakkan bulan di tangan kiriku. Agar aku menghentikan seruan dari Tuhanku…ketahuilah paman. Aku tidak akan meninggalkannya hingga tiba saat Allah memenangkan agamanya atau aku binasa karenanya”

Hidup itu pilihan kawan. Dan pilihan itu menentukan kualitas keimanan seseorang…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 November 2011 in Catatan Hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: